Posts Subscribe to (PUT YOUR BLOG NAME HERE)Comments




Senin, 29 Juni 2009

Angkerbatu


Kisah ini bermula dengan hilangnya Manda seorang reporter dengan Rino kameramennya dari sebuah perusahaan televisi Korea (Voice of Korea), kontributor news yang meliput kegiatan perusahaan-perusahaan Korea di luar negeri. Mereka pada saat itu tengah meliput demo masyarakat yang menentang pembangunan sebuah lapangan golf modern terbesar di Asia dengan 180 holes oleh sebuah perusahaan Korea di Indonesia. Lapangan golf tersebut akan dibangun di areal hutan yang memotong areal Angkerbatu. Yang kemudian ditentang oleh masyarakat setempat yang mengkhawatirkan pembabatan hutan ini akan mengganggu ketentraman para “penunggu” hutan Angkerbatu dan akan mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal disekitarnya.

Malam itu juga, tim news Voice of Korea, Yudha (produser), Kanaya (reporter) dan Warno (supir) segera menuju Angkerbatu untuk mencari rekan mereka yang hilang. Sesampainya dilokasi, mereka bertemu dengan Mr. Kim, pimpinan proyek PT Dae Sung Perkasa, yang terlihat sangat ketakutan dan mengajak mereka untuk segera menuju ke hotel. Ternyata, situasi yang mereka dapati jauh lebih buruk dari yang mereka duga. Bukan saja mereka tidak dapat menemukan Manda, namun juga tidak menemukan seorang pun di sana. Sebagian besar penduduk kota itu lenyap bagai ditelan bumi, mereka hanya menemukan sebuah kota kosong. Sesuatu telah terjadi disini, sesuatu yang tidak pada tempatnya dan kabutpun mulai turun perlahan menyelimuti Angkerbatu.

Yudha berinisiatif untuk mencari tahu apa yang tejadi di kota tersebut, namun akibat mencuci muka dengan air dari daerah tersebut, mereka kini dapat melihat mahluk-mahluk yang telah menguasai kota itu. Dari rekaman yang mereka temukan, sedikit demi sedikit mereka mulai mengetahui apa yang terjadi. Nampak Pak Gondo yang menjadi sesepuh daerah paling mengerti terhadap resiko kegiatan penebangan hutan itu, Yudha dan kawan-kawan harus mencari Pak Gondo untuk membantu mencari teman mereka.

Read More “Angkerbatu”  »»

Cerita Mistis dibalik tragedi Situ Gintung


Posted on Maret 30, 2009 by Tidak Menarik

Di balik tragedi Situ Gintung yang menewaskan puluhan orang, banyak cerita misteri yang mengiringi danau seluas 21 Ha tersebut. Seminggu sebelum tanggul jebol, ada informasi kalau sang penunggu, Nyi Mas Melati menampakkan diri dengan berpakaian serba putih di tengah Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat.

Kejadian ini termasuk langka dan jarang terjadi terlebih setelah adanya ‘Pulau Bergeser’ di Situ Gintung tahun 1986. Saat itu, menurut Abah Nur, 76, tokoh masyarakat yang yang tinggal sejak tahun 1965, ada cerita munculnya ular besar yang berdiameter sebatang pohon kelapa.

“Setelah munculnya ular raksasa di tengah situ, tiba-tiba timbul gundukan tanah atau yang disebut sebagai pulau kecil di dalam Situ Gintung yang bergeser ke tengah-tengah setu. “Pulau itu terlihat saat air setu menyusut atau kering. Tapi kalau meluap tak terlihat sama sekali,” kata Abah Nur, Jumat (27/3).

Aroma mistik tersebut kembali muncul seminggu lalu, saat sejumlah warga yang sedang memancing sekitar Pk. 18:30 melihat munculnya sinar terang di tengah situ. Sinar itu menggambarkan wanita berparas cantik yang lebih dikenal warga sekitar sebagai Nyi Mas Melati, sang penunggu situ yang dibangun pada tahun 1933 oleh Belanda.

Menurut dia, sejak munculnya penunggu situ, membuat beberapa warga merasa khawatir akan adanya bencana alam. “Namun kami tak menyangka, ternyata bencana tersebut berupa ambrolnya situ yang minta tumbal nyawa,” ujarnya.

BUAYA PUTIH
Cerita mistik dari kawasan Situ Gintung tak hanya penunggu wanita cantik saja, namun warga yang hobi mancing sering melihat ada buaya putih kerap menampakkan diri di malam-malam tertentu.

“Banyak yang sudah melihat buaya putih itu. Mereka cerita kepada warga hingga berkembang sampai sekarang. Apalagi sebelum kawasan di sekitar situ belum banyak dibangun rumah mewah, sering kali dijumpai hal-hal berbau mistik,” kata Muhamad Piong alias Cing Muhamad, 72, juru kunci Situ Gintung.

Menurut Cing Muhamad, dirinya merupakan keturunan keempat dari juru kunci Situ Gintung. “Dahulu situ ini dipegang kakak kandung ibu saya yakni Ma Enong. Ma Enong ini merupakan juru kunci situ pertama yang diteruskan ke Obri, saudara saya. Terakhir saya dipercaya. Namun saat ini sudah tidak aktif lagi,” katanya.

HAWA SIO (DINGIN)
Keangkeran Situ Gintung, diakui H.Nun, 67, kerabat dari H.Koko, pengelola Restoran Situ Gintung. “Dahulu kala penunggu situ, titip kepada bapaknya, Soenhaji agar merawat danau dengan baik. Akhirnya danau itu dibangun restoran dan berbagai fasilitas sampai sekarang,” kata H.Nun.

Ia menambahkan, mungkin terjadi salah pengelolaan di sekitar Situ Gintung hingga membuat penunggunya marah. “Namun terlepas dari itu semua, saya tetap meyakini semua musibah datangnya dari Allah SWT sebagai ujian kepada hambanya,” tukasnya.

Warga setempat, Ny.Maria, 47, mengakui angkernya Situ Gintung karena hawanya sio (dingin). “Lokasinya memang indah dan enak dikunjungi sebagai tempat rekreasi. Namun, kalau di sana rasanya aneh dan hawanya dingin. Tanpa sebab apa-apa, bisa saja ada pengunjung atau warga yang meninggal. Seperti minta tumbal yang terjadi hampir setiap tahun

Read More “Cerita Mistis dibalik tragedi Situ Gintung”  »»

Situ Cileunca dan Cerita Mistis


PESONA keindahan Situ Cileunca di Kp.
Cibuluh Desa Pulosari Kec. Pangalengan Kab. Bandung.* HAZMIRULLAH/”PR”

SITU Cileunca berada 45 km sebelah selatan Kota Bandung, tak jauh dari Kota Kecamatan Pangalengan. Genangan air seluas 180 hektare itu diapit dua desa, yakni Warnasari dan Pulosari. ”Sebenarnya, Situ Cileunca itu ada dua buah. Cileunca Satu memiliki luas 210 hektare dan ini, Situ Cileunca Dua, memiliki luas 180 hektare,” ungkap Asep Jabog (50), salah seorang tokoh masyarakat setempat, kepada ”PR”, belum lama ini.

Ia berkisah, dulu, Situ Cileunca merupakan kawasan milik pribadi seorang Belanda. ”Namanya Kuhlan,” katanya.

Pembangunan situ tersebut dilaksanakan selama 7 tahun (1919-1926) dengan cara membendung aliran kali Cileunca. ”Uniknya, berdasarkan penuturan orang-orang tua dulu, situ ini dibangun oleh banyak orang. Tak menggunakan cangkul, tapi menggunakan halu,”ujarnya.

Pembangunan situ tersebut, tuturnya, dikomandani dua orang pintar, yakni Juragan Arya dan Mahesti. Maka, tak heran, makam Mahesti dijadikan tempat keramat oleh masyarakat setempat. ”Soal yang suka berkunjung, tak cuma orang sini, tapi banyak juga orang dari luaran,” kata Ade Rowi (35), salah seorang tukang perahu di sana.

Ada banyak kisah mistis di Situ Cileunca. Satu yang sering didengar orang adalah ”pertunjukan wayang”. Asep Jabog membenarkan hal tersebut. ”Tapi, sekarang, sudah jarang terdengar. Da kalakumaha oge, sanget mah kumaha sungut, ceuk basa Sundana mah. Dulu, berdasarkan cerita, ada sekelompok penabuh wayang (dalang berikut para sinden dan nayaga,- red.) yang tenggelam di Situ Cileunca. Sejak itu, masyarakat sering mendengar raramean. Padahal, tidak ada apa-apa,” kata Asep.

Asep juga mengatakan, sebenarnya, ada dua siluman yang terkenal di Situ Cileunca. Lulun Samak dan Dongkol. Lulun Samak adalah “sesuatu” yang mematikan dengan cara menggulung mangsa. Sementara, Dongkol adalah “sesuatu” yang berwujud kepala kerbau.

”Tapi, sekarang, keduanya sudah tidak ada lagi di sini. Dengar-dengar mah, ada di Situ Bagendit. Soalnya, Situ Cileunca ini ’berhubungan’ dengan dua situ lainnya, yakni Bagendit dan Patengan. Coba saja lihat, kalau Cileunca surut, yang lainnya juga surut,” ujar Asep Jabog.

Hingga kini, kisah mistis di Situ Cileunca tetap saja berlangsung. Tentu, dalam taraf yang tidak membahayakan. ”Ya, jangan terkejut ketika berkemah di sini ada yang tiba-tiba nimbrung,” ujar Asep.

Satu hal yang dia khawatirkan adalah situasi objek wisata yang memanas. Dalam penilaiannya, penempatan kompleks peristirahatan di Situ Cileunca tidaklah tepat. “Jigana, baheula, keur nyieunna teu make bismillah-bismillah acan. Jadi, menta tumbal. Saya khawatir, tumbal yang diminta itu terjadi dalam waktu dekat ini. Soalnya, situasi di tempat tersebut, akhir-akhir ini, memanas,” ujar Asep Jabog.

“Ayam kampung”

Di siang hari, apalagi ketika langit cerah, Situ Cileunca benar-benar memanjakan pengunjung dengan keindahan alamnya. Dari atas perahu yang melaju perlahan di riak tenang air danau, pengunjung dapat memutar pandangan, menatap hamparan hijau kebun teh. Nun jauh di sana, tiga gunung berdiri dengan jemawa. Gunung Malabar, Wayang, dan Gunung Windu.

“Malam hari, di sini juga ramai. Banyak ayamnya. Bukan ayam biasa. Ditanggung nikmat,” Ade Rowi berucap. Tak berseloroh dia. Meski tak tahu persis berapa jumlah “ayam” yang ada, Ade mengaku bisa mempertemukan pelanggan. Tinggal mengontak koordinator. “Soal tempat, kebanyakan orang menggunakan fasilitas saung di kampung seberang danau. Sewanya, Rp 150.000,00 semalam,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, “ayam-ayam kampung” yang ada di sana tak berlaku agresif. Dalam kesehariannya, mereka beraktivitas sebagaimana biasa. Malam pun, mereka tak kelayapan, agresif mencari pelanggan. “Nah, kalau ada yang pesan, barulah mereka keluar rumah. Kalau enggak, ya tinggal saja di rumah,” tuturnya.

Kebanyakan, katanya, “ayam-ayam kampung” merupakan produk perceraian di usia yang masih belia. ”Soal tarif, ya paling-paling Rp 50.000,00 sampai Rp 150.-000,00,” kata Ade Rowi. (Hazmirullah/”PR”)***

Read More “Situ Cileunca dan Cerita Mistis”  »»

 

iklan


Masukkan Code ini K1-CA73B1-C
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com




Dark Side Blogger Template

Dark Side Blogger Template

Dark Side Blogger Template

Dark Side Blogger Template Copyright 2009 - Pecinta maistik.com is proudly powered by Blogger.com Edited By Belajar SEO